Sabtu, 30 November 2013

Menzinahi mahasiswi hingga hamil, Sitok aktivis Salihara dipolisikan



JAKARTA (Arrahmah.com) - Sastrawan dan penggiat teater di Komunitas Salihara, Sitok Sunarto alias Sitok Srengenge (48) diadukan ke Polda Metro Jakarta lantaran menzinahi hingga hamil salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berinisial RW (22). Sitok dilaporkan ke pihak berwajib dengan nomor pengaduan TBL/4245/XI/2013/PMJ/Dit Reskrimum karena enggan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sitok dikenakan pasal 335 KUHP dengan delik aduan perbuatan tidak menyenangkan.
Kuasa hukum dan sekaligus juru bicara keluarga korban, Paulus Irawan SH menuturkan kasus ini sarat dengan upaya yang sudah direncanakan oleh sang pelaku untuk menjerat korbannya secara sistematis dan masif, tulis rilis yang diterima redaksi arrahmah,com Jumat malam.
“Dia malah menjual profesi kesenimanannya dengan  sangat murah, memikat, memaksa korban secara psikis  terus menghamilinya tanpa sikap tanggung jawab. Bahkan seolah sok tidak tersentuh tindakan  hukum dan aparatnya. Sungguh  sikap ini  melecehkan kaum perempuan,” kata Paulus Irawan,SH yang lebih dikenal dengan nama Iwan Pangka di Polda Metro Jaya, Jumat (29/11/2013). 
Iwan menambahkan, perbuatan Sitok selain melanggar hukum maupun moral juga mencoreng citra dunia kesenian Indonesia. Sitok Srengenge, lanjut Iwan, seharusnya memiliki sikap yang berbudaya karena dirinya memakai atribut atau berprofesi sebagai seorang seniman. Namun, Sitok justru dalam tindakannya melukai nilai moral kebudayaan Indonesia itu sendiri. Hal tersebut diperparah dengan usia Sitok dan RW yang terpaut jauh.
“Sangat tidak  pantas, apalagi dilakukan oleh sang pelaku (Sitok Srengenge), yang nyatanya sudah mempunyai usia yang matang, di mana sebetulnya korban layak diposisikan sebagai anaknya,” tegasnya.
Sementara Lili Tjahjandari, dosen korban mengatakan perbuatan Sitok sudah merugikan mahasiswanya, tak terkecuali civitas akademika UI. Menurutnya, mahasiswanya secara jelas menanggung beban secara psikis atas perbuatan Sitok tersebut.
“Kami mendukung apabila ini diproses lebih lanjut, UI merasa jika yang dilakukan itu tidak baik dan (Sitok) wajib bertanggung jawab secara hukum,”tegas Lily.
Hal senada diserukan oleh Saraswati Dewi atau Sarasdewi, dosen FIB UI yang peduli terhadap masalah perempuan. Sarasdewi mengatakan bahwa korban RW mendapat dukungan penuh dari civitas akademika yang ada di kampus. Ia menekankan bahwa laporan ini tidak saja mencari keadilan untuk korban, melainkan sebagai upaya memutus perbuatan tidak menyenangkan yang merugikan perempuan.
“Perbuatan yang tidak menyenangkan, mengorbankan anak gadis atau perempuan seperti ini harus dihentikan dan keadilan harus diperjuangkan, pada dasarnya kami tidak ingin sampai ada korban selanjutnya,”tegasnya. (azm/arrahmah.com)

Puasa dua kali dalam seminggu bisa mencegah penyakit Alzheimer

(Arrahmah.com) - Para peneliti dari National Institute on Ageing menemukan bahwa dengan berpuasa, bahkan selama satu atau dua hari selama seminggu. Dapat melindungi otak terhadap beberapa efek buruk dari Alzheimer, Parkinson dan menjadi kunci untuk kehidupan yang lebih panjang.
Penelitian ini awalnya dilakukan terhadap binatang percobaan seperti tikus yang diberi  makanan dengan kalori minimum dan hasilnya justru berumur dua kali lebih panjang. Percobaan selanjutnya dilakukan pada manusia dan ternyata memiliki manfaat yang sama melindungi jantung, sistem peredaran darah dan melindungi otak dari penyakit Alzheimer.
Menurut peneliti, bahwa diet rendah kalori adalah resep untuk hidup sehat, dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan mengurangi sekitar 500 kalori untuk satu sampai dua hari selama seminggu,  secara signifikan memperlambat timbulnya penyakit pada otak.
Para peneliti mengatakan, dengan berpuasa, maka kimia di otak mendorong asupan kalori terbatasi. “Mengurangi asupan kalori bisa membantu otak Anda, tapi dengan cara mengurangi asupan makanan atau berpuasa,” jelas Mark Mattson, kepala laboratorium institut ilmu saraf di Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, seperti dilansir dari guardian.co.uk.
Mattson dan rekannya berpendapat bahwa kelaparan sendiri kadang-kadang bisa mencegah bukan hanya kesehatan yang buruk dan kematian dini. Tetapi menunda timbulnya kondisi yang mempengaruhi otak, termasuk stroke. “Hewan percobaan kami jelas menunjukkan hal ini,” kata Mattson.
Dia dan rekan-rekannya juga telah bekerja di luar mekanisme tertentu di mana pertumbuhan neuron di otak dapat dipengaruhi oleh berkurangnya asupan energi. Jumlah dari dua pesan bahan kimia meningkat saat asupan kalori berkurang tajam. Pesan kimia memainkan peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan neuron di otak, sebuah proses yang akan melawan dampak dari Alzheimer dan Parkinson.
“Sel-sel otak yang diletakkan di bawah stres ringan beranalogi dengan efek dari latihan pada sel-sel otot, efek keseluruhan yang bermanfaat,” ujarnya.
Hubungan antara penurunan asupan energi dan meningkatkan pertumbuhan sel di otak mungkin terlihat satu yang tidak mungkin, tetapi Mattson bersikeras bahwa ada alasan evolusi suara untuk percaya itu menjadi kasus.
“Ketika makanan menjadi langka, kita akan mencari atau mencuri makanan. Mereka yang otaknya menanggapi terbaik – yang ingat di mana makanan tersebut  dapat ditemukan atau ingat bagaimana untuk menghindari musuh – merekalah yang akan mendapatkan makanan. Jadi mekanisme yang menghubungkan periode kelaparan terhadap pertumbuhan saraf akan berkembang,” tandas Mattson. 
Seperti yang diungkapkan Taruna Ikrar, MD., PhD, Specialist and Scieintist dari University of California, School of Medicine, Irvine, USA, bagi penyakit kardiovaskuler, tidak ada penanggulangan yang lebih baik selain mencegahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya hidup sehat, melaksanakan pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak makan berlebihan makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi), serta dilanjutkan dengan olah raga atau aktivitas yang teratur.
Nah, dengan berpuasa, akan melatih seseorang untuk hidup teratur, serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian, puasa dapat menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Beberapa penelitian menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia.
Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
Puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal. Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.
Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan member perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.
Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi pengkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalani kenaikkan pesat. Perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan rendah (LDL), tanpa diikuti penambahan HDL. LDL merupakan model lipoprotein yang meberika pengaruh stumulatif bagi respon imunitas tubuh.
Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.
Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.
Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.
Sebelum penelitian ini di lakukan, beberapa abad yang lalu Islam sudah menganjurkan manusia untuk melaksanakan puasa baik puasa wajib pada bulan Ramadhan, juga di bulan-bulan lain kita dianjurkan untuk berpuasa sunnah Senin dan Kamis. serta di sebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa kita dianjurkan untuk berpuasa, selain mendapat jaminan pahala, kita juga akan menjadi sehat.
Subhanallah… Wallahu’alam bish shawab…
(ameera/dbs/arrahmah.com)


Kejadian itu menggetarkanku! Lalu, akupun memakai hijabku kembali



Kehidupan berlangsung selama lima tahun dan saya telah berada di tahun terakhir di sebuah SMA elit.  Ya, saya berasal dari SMA elit. Meskipun kehidupan saya sukses selama lima tahun, tapi secara rohani saya merasa sangat kerontang.
Bukan hanya karena saya telah melepas hijab saya, tapi saya juga telah mengabaikan banyak sekali tanggung jawab keagamaan lainnya. Saya sholat dan membaca al-qur’an seadanya saja. Saya berbaur dengan teman-teman yang benar-benar bodoh tentang Islam, mereka membawa saya menjauh dari jalan yang benar.
Selama tahun-tahun tersebut, saya secara perlahan-lahan hidup dalam kemewahan dan hura-hura. Saya berpaling ke musik barat untuk untuk mencari ketenangan. Namun, kepuasan batin dan kedamaian yang saya cari, tidak pernah saya temukan.Hanya kesenangan sementara yang saya rasakan, tapi hanya sebentar, setelah itu, kesenangan itu sirna dari hati saya.
Menjelang akhir pendidikan SMA saya, hidup menjadi sangat menyedihkan. Kebingungan,  kesedihan dan ketidakpastian bercampur aduk, dan sepertinya enggan untuk meninggalkan pikiran saya. Dengan semua masa depan yang sukses menunggu, teman-teman yang baik dan selalu mendukung saya, dan nilai A di tangan saya, saya menemukan kehidupan yang betul-betul kerontang. Batin saya merindukan sesuatu, sesuatu yang bisa memberi saya kedamaian dan ketenangan. Sesuatu yang bisa memberikan saya suatu kebahagiaan abadi.
Suatu malam, saya duduk sendirian, dengan perasaan sengsara dan sedih. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya memutuskan mengambil wudhu dan kemudian sholat Isha’. Saat saya bersujud, hal yang paling ajaib terjadi. Saya menangis terisak, tak terkendali. Saya tidak memahami mengapa saya menangis, saya terus menangis sehingga hati saya tiba-tiba tenggelam dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan yang tidak pernah saya  alami sebelumnya.  Saya tidak mau berhenti karena saya merasa bahwa air mata dan sujud ini yang membuat saya begitu dekat dengan Allah. Ini adalah saat yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup.
Setelah selesai berdoa, saya duduk sebentar. Pikiranku begitu damai dan tekanan berat yang selalu menghantui saya selama ini, benar-benar pergi. Saya kemudian tertidur. Hati saya benar-benar damai.
Kejadian luar biasa tersebut memiliki dampak besar pada kehidupan saya. Perlahan-lahan, saya mulai menjauhkan diri dari teman-teman saya dan mencoba untuk berpartisipasi dalam lingkungan kurang ‘elit’ dan memperbanyak kegiatan positif. Saya menghabiskan banyak waktu sendirian, berpikir dan merenungkan secara mendalam tentang makna kehidupan dan apa cara hidup yang ideal yang akan memberikan saya kebahagiaan dan kepuasan. Kehidupan yang lebih dari sekedar apa yang orang lain impikan: fun, bergosip, pamer kekayaan dan ketenaran, dll.
Allah pasti ingin saya dan semua orang untuk menjadi individu yang mulia. Sedikit demi sedikit  saya mulai merasakan kebencian terhadap arogansi dan kebanggaan semu yang menyelimuti hati saya. Saya tahu, ini sudah waktunya bagi saya untuk berubah.
Saya lulus dari SMA dan memasuki pusat matrikulasi, untuk pengembangan akademik pra-universitas. Pada saat itu, saya terus menghabiskan banyak waktu sendirian, berpikir dan membaca buku-buku tentang Islam. Beberapa teman saya heran melihat perubahan dalam diri saya, tapi saya diam saja. Seorang teman dekat melihat saya dengan aneh saat saya membeli buku-buku tentang Islam sepanjang waktu. Saya masih belum memakai hijab, tapi saya mulai memperbaiki kualitas sholat saya, dan juga meningkatkan tadarrus al-Qur’an.
Saya memperhatikan pelajar-pelajar lain yang saleh di sekitar saya dan menghabiskan banyak waktu di masjid. Dari semu itu,, saya bisa mengatakan bahwa yang telah membawa saya ke pemahaman yang lebih baik secara keseluruhan dan kesukaan terhadap keindahan Islam adalah buku yang saya baca dan perenungan yang mendalam yang saya lakukan setiap hari. Dan tak lupa, doa yang memberiku kekuatan batin untuk tidak dipengaruhi oleh dunia luar yang membawa dampak buruk dalam kehidupan saya. Saya merasakan kebahagiaan itu merasuk semakin dalam ke jiwa saya, meskipun saya tampaknya kesepian.
Tiga bulan kemudian, saya ditawari beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Pergi ke Inggris atau Amerika Serikat merupakan impian saya sejak lama. Impian sepanjang hidup saya. Tapi saya menghimpun semua keberanian  untuk menolak tawaran yang selama ini saya impi-impikan, dan saya kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah negara Arab sebagai gantinya, yaitu Mesir.
Teman-teman dan guru saya menertawakan keputusan tersebut. Tapi saya bertekad. Saya ingin belajar bahasa Arab dan juga Islam. Saya juga ingin sebuah lingkungan baru di mana saya bisa memulai hidup baru dan bermakna. Pada waktu itu, tujuan saya untuk pergi ke Mesir hanya satu, yaitu untuk menemukan Tuhan. Saya benar-benar ingin menemukan Tuhan.
Setelah empat bulan, saya pun terbang ke Mesir.
Dengan rahmat Allah, saya diperkenalkan dengan teman-teman baru. Teman yang sangat baik, dan mendalami Islam. Mereka mengajak saya untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan keislaman. Saya mulai belajar tentang Islam secara lebih rinci dan mulai menghargai itu dalam arti sebenarnya. SubhanAllah!
Saya akhirnya melihat Islam dari perspektif yang sama sekali berbeda dan semuanya dapat diteriman secara akal. Allah telah menjawab doa saya. Saya memakai hijab kembali, karena saya merasa lebih dekat dan lebih dekat dengan kebenaran Allah. Dengan memiliki keyakinan yang kuat dan rahmat dari Allah, mengenakan hijab menjadi begitu mudah bagi saya karena saya melihat segala sesuatu yang lain-terutama komentar negatif dan reaksi orang- sangat tidak berarti, tidak penting dan mencerminkan kedangkalan berfikir.
Memahami Islam yang benar dan dan memakai jilbab lagi membuat saya merasa lebih bermartabat sebagai perempuan. Saya tidak menemukan ada alasan lagi untuk menjadi rendah diri karena jilbab saya atau karena terdorong untuk menyenangkan orang lain. Keagungan dan kebenaran Islam telah bersinar ke dalam hati saya.
Karena hidayah dari Allah akhirnya saya menemukan kebanggaan sejati, kehormatan dan harga diri. Hati menjadi tenang, saya mengalami kebebasan total karena saya tahu bahwa tujuan saya di dunia dimaksudkan untuk taat kepada Allah dan hanya Allah semata. Betapa indahnya perasaan itu! Saya tidak akan pernah diperbudak oleh siapa saja, secara psikologis atau fisik, tidak harus hidup dan berpura-pura untuk menyenangkan orang lain dan tidak harus melawan hati nurani saya agar saya dapat diterima dalam suatu kelompok tertentu, karena saya telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga: kebebasan dan kemerdekaan mutlak hanya dapat ditemukan dalam ketaatan dan kepatuhan kepada Allah.
Kehidupan setelah itu penuh dengan kepuasan batin dan kesenangan. Tentu saja, setiap manusia mengalami cobaan dan kesulitan, tapi dengan kehadiran Allah dalam hati, semua cobaan tersebut menjadi mudah. Saya melakukan perjalanan ke banyak tempat, mendukung kegiatan keislaman dan kemanusiaan seperti ke Indonesia, Kamboja, Lebanon, Suriah, dan bagian yang berbeda dari Mesir dan Malaysia. Saya transit di bandara yang berbeda-beda dan mengunjungi beberapa tempat-tempat dimana kadang mereka tidak mengenal Islam.
Jangan sekali saya alami, selama perjalanan saya, saya merasa rendah diri, seperti dulu yang pernah saya alami. Sebaliknya, sekarang saya merasa lebih percaya diri mengenakan busana Muslimah.  Semakin banyak orang yang menatap, saya semakin merasa percaya diri. Apapun arti dari tatapan itu, diam-diam saya terus mengatakan pada diriku sendiri “Ya, inilah saya. Saya seorang Muslimah. Dan saya memakai hijab sebagai tanda ketaatan saya kepada Allah.”
Saya berharap bahw aorang-orang yang menatap saya yang sedang memakai busana Muslimah, orang-orang ini akan menjadi penasaran dan tertarik untuk belajar tentang kebenaran Islam.
Saran saya untuk saudariku sesama Muslimah di luar sana yang masih ragu memakai hijab: Baca lebih lanjut tentang Islam dan hijab, banyaklah bertanya kepada mereka yang memahami Islam, dan yang paling penting adalah: cobalah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Perhatikan sholat lima waktu Anda, mohonlah kepada Allah agar selalu diberikan petunjuk yang lurus. Allah tidak akan pernah mengabaikan atau meninggalkan Anda jika Anda benar-benar tulus.
Setelah Anda telah menemukan kebenaran, jangan pernah mengingkarinya!
Cinta dan Kasih Allah pasti akan membawa Anda untuk memahami akan  kebenaran hijab.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an , “Hai orang-orang yang beriman, masuklah (taatlah) kamu ke dalam Islam keseluruhan (Kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. ” ( 2 : 208 ) .
Sebagai Muslimah, kita tidak seharusnya berpikir bahwa seseorang dapat menjadi Muslimah yang baik walau tanpa hijab, karena Islam tidak dimaksudkan untuk diikuti sebagian saja, melainkan harus diikuti secara keseluruhan.
Perintah mengenakan hijab bagi Muslimah semata-mata dimaksudkan untuk kebaikan kita sendiri. Islam menekankan kerendahan hati, nilai-nilai akhlak, dan perilaku yang terpuji. Hal ini karena kemurahan, cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita, Allah memerintahkan kita untuk memakai hijab.
Tutup mata Anda dan jawablah pertanyaan ini dengan jujur: siapakah yang lebih mengetahui apa yang terbaik  bagi Anda dan apa yang tidak ? Apakah masuk akal untuk percaya bahwa kita lebih mengetahui apa yang terbaik daripada Pencipta kita? Renungkanlah wahai saudariku!
Karena cinta saya menuliskan kisah nyata ini untuh Anda.
 *ditulis oleh Raudah Mohd Yunus,Freelance Writer- Kuala Lumpur, Malaysia

29 tim Indonesia bersaing di Olimpiade Robot Dunia 2013



JAKARTA (Arrahmah.com) – Sebanyak 29 tim Indonesia akan bersaing dengan tim-tim dari mancanegara dalam Olimpiade Robot Dunia (World Robot Olympiad/WRO) 2013.
Dalam kompetisi yang berlangsung di Jakarta pada 16-17 November 2013 itu, para peserta ditantang untuk menyelesaikan pembuatan robot dari Lego dengan beragam tingkat kesulitan.
“Mereka diajak untuk kreatif menyelesaikan tantangan,” kata Ketua Panitia Pelaksana WRO 2013, Bambang Rusli, di Jakarta, Sabtu (16/11/2013).
Menurut dia, kompetisi tingkat dunia ini bukan hanya menonjolkan kreativitas perorangan tetapi juga kerja sama tim, inovasi, kreativitas tim dan kemampuan menyelesaikan masalah.
“Hal-hal seperti itu yang diperlukan bagi generasi muda agar impian mereka tercapai,” kata Bambang.
Para peserta WRO 2013 yang berasal dari 37 negara dan ratusan pengunjung sejak pagi sudah memadati tempat penyelenggaraan WRO di Ecovention Hall, Ecopark, Ancol.
Para peserta memamerkan robot karya mereka di gerai-gerai yang disediakan. Sementara peserta olimpiade kategori robot sepak bola, antusias menggiring robot mereka agar bisa mencetak gol ke gawang lawan.
Teriakan dan tepuk tangan para pendukung sesekali terdengar kala tim yang mereka dukung berhasil mencetak gol.
WRO 2013, yang mengangkat tema World Heritage, menyelenggarakan kompetisi dengan beberapa kategori yakni kategori reguler yang mencakup tingkat sekolah dasar dengan tema batik, tingkat SMP dengan tema Borobudur dan tingkat SMA dengan tema Pulau Komodo.
Selain itu ada kompetisi kategori robot kreatif untuk SD, SMP dan SMA; kategori robot sepak bola, serta lomba robot tingkat mahasiswa.
WRO 2013 diikuti oleh 385 tim yang terdiri atas 1.500 peserta dari 37 negara. Kompetisi robot itu sudah rutin diadakan setiap tahun sejak sepuluh tahun lalu.
Tahun ini Indonesia untuk pertama kalinya mendapat kesempatan menjadi tuan rumah kompetisi robot dunia tersebut.(azm/antara/arrahmah.com)

Prof. Dadang Hawari: Miras termasuk Narkoba, harus dilarang!




JAKARTA (Arrahmah.com) - Psikiater Prof. DR. dr Dadang Hawari mengkritik sikap pemerintah yang hingga hari ini tidak melarang peredaran miras (minuman keras) di Indonesia. Padahal miras dalah narkotik dan obat terlarang.
“Miras termasuk Narkoba, harus dilarang,” tegas Dadang dihadapan peserta Seminar Nasional Sehat Tanpa Obat di Auditorium Masjid Raya Pondok Indah Jakarta, Selasa (5/11/2013).
Semua ajaran agama, kata Dadang  tidak membolehkan minuman keras ini. Dia menceritakan negara Barat seperti Rusia saja sudah melarang. Jadi tidak ada alasan agama Islam. Terlebih lagi Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam.
Miras telah banyak membuat kemudharatan pada tatanan kehidupan masyarakat. Dadang menceritakan beberapa pasiennya hancur kehidupannya dari sisi pekerjaan, rumah tangga dan ibadah  seperti sholat. “Pasien saya  yang tadinya sholat menjadi gak sholat, karena miras,” katanya.
Prof Dadang juga memberi alasan tentang keharusan miras itu dilarang. Pemerintah sudah melarang ganja, shabu, putau dan narkoba lainnya, namun kenapa tidak melarang miras.
“Padahal inti narkoba itu ada pada miras,” ujar Prof Dadang.
Dia juga sangat mengkhawatirkan semakin maraknya peredaran miras di minimarket-minimarket.  Sudah banyak korban hingga meninggal dari miras ini. Pemerintah berdosa atas hal itu.
“Dosanya kayak apa itu. Bagaimana negara kita tidak dilaknat Allah?,” kata muballigh populer tahun 70 dan 80 an ini bersama Dr.Tarmizi Taher ini.
(azmuttaqin/arrahmah.com)

Asyura dan fitnah seputar wafatnya Husain


(Arrahmah.com) - Seperti apa latar belakang singkat dari peristiwa Asyuro di Karbala? Siapa sosok Muslim bin Aqil? Siapa saja yang menasehati Husein agar tak pergi ke Kufah? Apa isi nasehtnya? Mengapa Husain Radhiyallohu anhu menyebut Karbala, karbun wa bala (bencana dan musibah)? Siapa yang telah berkhianat kepada Husian? Siapa sesungguhnya pembunuh cucu nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam itu?
Masih di bulan Muharam dan untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, redaksi arrahmah.com menampilkan cuplikan tulisan Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com), yang terpampang di situs tersebut tulisan utuhnya berjudul Asuro dan Karbala, 15 November 2013. Bermanfaat insya Allah Ta’ala.
Setelah Yazid dibaiat sebagai Amirul Mukminin di Syam (wilayah sekitar Damaskus, Suriah, Lebanon, dan Palestina), Husain Radhiyallohu anhu diajak oleh kelompok Yazid untuk turut membaiat Yazid. Namun Husain menolak, dan beliau segera meninggalkan Madinah menuju Mekah. Ketika Penduduk Kufah (Irak) yang mendengar sikap Husain terhadap Yazid, mereka langsung mengirim berbagai surat kepada Husain. ada lebih dari 500 surat yang diterima Husain. Inti dari isi surat itu ada 3 hal,
  1. Penduduk Kufah tidak membaiat Yazid
  2. Penduduk Kufah hanya mau taat jika Husain dan keluarga Ali sebagai khalifah
  3. Mengundang Husain untuk datang ke Kufah agar bisa dibaiat
Untuk menyelidiki kebenaran berita dan isi surat ini, Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupu Husain) agar memeriksa keadaan di Kufah yang sebenarnya. Sesampainya Muslim bin Aqil tiba di Kufah, dia singgah di rumah Hani bin Urwah. Di rumah ini, banyak penduduk Kufah yang membaiat Husain melalui perwakilan Muslim bin Aqil. Merasa bahwa penduduk Kufah telah loyal terhadap Husain, Muslim mengirim surat kepada Husain, agar segera datang ke Kufah, karena semua telah disiapkan.
Berita tentang penduduk Kufah didengar oleh Yazid. Ketika itu, Kufah termasuk daerah kekuasaan bani Umaiyah dengan gubernur: Nu’ban bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun karena Nu’man tidak perhatian dengan kejadian baiat Husain di Kufah, beliau dinon-aktifkan dan wiliyah Kufah diserahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang ketika itu menjadi gubernur Bashrah. Sehingga Ubaidillah memegang kekuasaan dua wilayah, Bashrah dan Kufah.
Ubaidillah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidillah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah. Namun Hani’ tidak mau mengaku, hingga dia dipenjara. Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil datang bersama 4000 orang syiah (pembela) Husain yang membaiatnya dan mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Ini terjadi siang hari.
Ubaidillah bin Ziyad merespon pengepungan Muslim bin Aqil dengan mengancam akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam, hingga hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.
Manusia, kaum Muslimin khususnya bisa menilai, bagaimana karakter penduduk Kufah yang menjadi syiah (pembela) Husain dan Ali bin Abi Thalib.
Muslim pun ditangkap dan Ubaidillah memerintahkan agar dia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidillah bin Ziyad.
Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal“. Muslim bin Aqil kemudian dibunuh, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah.
Husain berangkat dari Mekah menuju Kufah di tanggal 8 Dzulhijah, hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Berikut beberepa nasehat mereka kepada Husain,
Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu menemui Husain,
Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka. Mohon jangan engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu menemui Husain,
Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian“.
Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Ibnu Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah agar tidak dibunuh“.
Singkat cerita Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala bersama 73 orang yang mendampinginya. Kemudian tibalah 4000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad di bawah pimpinan Umar bin Saad. Husein bertanya, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbala: Karbun wa Balaa’.” Karbun artinya bencana dan Balaa’ artinya musibah.
Wahai manusia, Anda bisa simak, bagaimana Husain sama sekali tidak memberikan pujian terhadap Karbala’. Justru beliau memberikan nilai buruk, dari nama Karbala. Berbeda dengan orang syiah. Mereka memuji habis Karbala’ dan menyebutnya sebagai tanah suci.
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu dia menawarkan 3 hal, “Aku ada 3 pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam untuk membaiatnya, atau (3) Aku pergi ke daerah perbatasan dan ikut bergabung bersama kaum muslimin dalam jihad melawan daerah kafir.
Ubaidillah bin Ziyad menyetujui tawaran Husain. Namun tiba-tiba sosok jahat Syamr bin Dzil Jausyan memprotes. “Jangan. jangan kabulkan tawarannya, sampai dia menjadi tawananmu, wahai Ubaid.” Syamr masih termasuk  kerabat dekat Ubaidillah.
Mendengar usulan ini, Ubaidillah merasa ada unsur bangga. Diapun menyetujuinya. Namun Husein menolak untuk menjadi tawanan Ubaidillah.
Mulailah terjadi ketegangan antara pasukan Husain yang berjumlah 73 orang dengan pasukan Irak 4000 orang. Husain pun berceramah mengingatkan status dirinya dan kedekatannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga sekitar 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husain.
Namun apa daya 100 lawan 4000. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husain, hingga tersisa Husain seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya. Masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiba-tiba datang Syamr bin Dzil Jausyan –semoga Allah menghinakannya – meneriakkan, “Apa yang kalian lakukan, segera serang dia.” Syamr pun melemparkan panah lalu mengenai Husein dan ditambah tombak Sinan bin Anas yang mengenai dada Husain. Beliaupun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husain akhirnya mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Ini terjadi di hari Jumat, 10 Muharam, hari Asyura. Wallohu A’lam.
Kisah ini diceritakan dari berbegai sumber oleh Dr. Utsman al-Khamis dalam bukunya: Huqbah min at-Tarikh hlm. 140 – 147.(azm/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/asyura-fitnah-seputar-wafatnya-husain.html#sthash.jhpm7pH8.dpuf

Jabhah Nushrah eksekusi mati 5 agen intelijen rezim di pinggiran Damaskus



DAMASKUS (Arrahmah.com) – Mujahidin Jabhah Nushrah mengeksekusi mati lima orang agen yang bekerja untuk Dinas Intelijen rezim Nushairiyah Suriah di kota Ghautah Timur, provinsi pinggiran Damaskus pada hari Senin (28/10/2013). Kelima agen tersebut terbukti melakukan kejahatan yang mengakibatkan kerugian jiwa pada barisan mujahidin dan umat Islam. Berikut rilisan resmi Jabhah Nushrah terkait eksekusi mati tersebut:
****
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
jabhah-nashrah-logo
Penjelasan no. 438
Melaksanakan hukuman Allah terhadap sejumlah agen rezim Nushairiyah Suriah di pinggiran Damaskus
Segala puji bagi Allah Yang Maha Merajai lagi Maha Tinggi, Yang telah memerintahkan kita untuk memutuskan perkara di antara manusia dengan keadilan dan mensyariatkan kepada kita untuk melawan penyerangan dengan balasan setimpal. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada orang yang senantiasa tersenyum lagi ahli berperang, nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam, juga atas seluruh keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.
Allah Ta’ala telah memudahkan kepada regu-regu intelijen Mujahidin Jabhah Nushrah [semoga Allah memenangkannya] dan beberapa brigade Islam lainnya untuk menangkap beberapa agen rezim Nushairiyah Suriah di beberapa wilayah pinggiran Damaskus. Setelah diadakan penyidikan dan interogasi, mereka mengakui telah melakukan sejumlah kejahatan terhadap mujahidin dan kaum muslimin awam, seperti membunuh, memperkosa dan memberikan informasi tentang posisi-posisi mujahidin sehingga pesawat tempur rezim Nushairiyah bisa membombardir posisi mujahidin.
Hukuman Allah akhirnya dilaksanakan terhadap mereka setelah tuduhan kepada mereka terbukti dalam proses penyidikan. Mereka adalah:
  1. Zahi Salam, Ghautah Timur, pinggiran Damaskus Ia seorang tentara dan telah berdinas dalam tentara rezim Nushairiyah Suriah sejak 2 tahun 7 bulan yang lalu. Ia berdinas pada Brigade Sandi 304 dalam Pasukan 105 Garda Republik. Ia mengaku telah melakukan sejumlah pembunuhan dan pemerkosaan.
  2. Abdul Wahhab Mar’I, Ghautah Timur, pinggiran Damaskus Ia seorang sukarelawan pada tentara thaghut sejak 4 tahun yang lalu, berdinas pada Kompi 215 Intelijen Militer. Ia mengaku telah membunuh beberapa orang Islam dalam sejumlah operasi serangan pasukan rezim Nushairiyah Suriah.
  3. Abdul Qadir Amin, Ghautah Timur, pinggiran Damaskus Ia mengakui telah bekerjasama dengan sejumlah perwira pasukan Nushairiyah Suriah. Ia telah menyerahkan sejumlah informasi kepada perwira Nushairiyah tentang lokasi markas-markas mujahidin FSA di kota Harasta, Malihah, dan lain-lain dengan imbalan sejumlah uang yang diberikan kepadanya. Markas-markas mujahidin FSA tersebut telah dibombardir oleh pesawat tempur rezim Nushairiyah.
  4. Abdah Al-Ushairi, Ghautah Timur, pinggiran Damaskus Sopir bayaran, bekerjasama dengan Dinas Intelijen Suriah dan milisi Syiah Shabihah sejak awal terjadinya revolusi Suriah. Ia mengaku telah bekerjasama dengan rezim Nushairiyah, mengangkut sejumlah tawanan kaum muslimin awam dan mengangkut sejumlah anggota milisi Syiah Shabihah ke tempat operasi mereka.
  5. Ali Husain Ismail, Ghautah Timur, pinggiran Damaskus Ia mengaku telah bekerjasama dengan seorang tentara Nushairiyah Suriah yang berada di posko militer Jisr Khamis yang menuju Bandara Internasional Damaskus. Ia menyerahkan kepada tentara tersebut informasi tentang posisi posko-posko militer milik mujahidin FSA, sehingga posko-posko tersebut dibombardir oleh pesawat tempur rezim Nushairiyah. Hukuman Allah terhadap mereka telah dilaksanakan pada hari Senin, 23 Dzulhijah 1434 H/28 Oktober 2013 M. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.
“Allah Maha Melaksanakan urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahaminya.” (Terjemahan QS. Yusuf [12]: 21)
Jabhah Nushrah
Yayasan Media Al-Manarah al-Baidha’
Jangan melupakan kami dalam doa AndaSegala puji bagi Allah Rabb seluruh alam
Senin, 22 Muharram 1435 H
25 November 2013 M
(siraaj/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/jihad/jabhah-nushrah-eksekusi-mati-5-agen-intelijen-rezim-pinggiran-damaskus.html#sthash.I5rFeVmh.dpuf

Taushiyah Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi untuk persatuan dan kemaslahatan Mujahidin di Suriah



(Arrahmah.com) – Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi [semoga Allah membebaskannya dari penjara rezim sekuler Yordania] kembali menulis taushiyah ringkas untuk mujahidin Islam di Suriah. Taushiyah itu berjudul “Tidak seperti wanita yang rela anaknya dibelah”, ditulis oleh beliau pada Selasa, 1 Muharram 1435 H/5 November 2013 M dan dimuat oleh situs resmi beliau, Mimbar At-Tauhid wal Jihad, pada Ahad (17/11/2013).
Mengingat penting dan berharganya taushiyah terbaru Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi ini, arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca budiman. Semoga bermanfaat.
****

“Tidak seperti wanita yang rela anaknya dibelah”

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Tidak ada orang yang memahami agamanya, mengilmui syariatnya, antusias terhadap kebaikan jihad dan mujahidin, dan mengkhawatirkan nasib Islam dan kaum muslimin; yang akan rela jika jihad terbelah atau mujahidin terpecah-belah, atau mempertentangkan antara dakwah tauhid dengan jihad demi menegakkan tauhid, atau memutuskan sebagian dakwah tauhid dari jihad, atau membagi-bagi para pembela tauhid dan pengikut dakwah tauhid menjadi pengikut fulan A dan pengikut fulan B.
Justru orang-orang yang rela atas hal itu adalah orang yang paling bodoh dan paling berbahaya terhadap dakwah dan jihad. Mereka memutuskan perkara yang Allah telah memerintahkan untuk disambung, dan mereka senang apabila para pejuang agama ini tetap berpecah-belah dan tercerai berai dalam banyak golongan, tanpa disatukan oleh ikatan tauhid yang menyatukan mereka!
Orang yang tidak cukup dengan dua hal ini
Semoga Allah tidak melindunginya dari buruknya musibah-musibah zaman
Orang yang tidak cukup dengan dua hal ini
Semoga Allah tidak menyembuhkan sakit hati dan badannya
Orang yang tidak cukup dengan dua hal ini
Semoga Allah Rabbul ‘Arsy melemparnya dengan kekurangan dan keterhalangan Orang yang tidak cukup dengan dua hal ini.
Mereka itu tidak mungkin menjadi pembela-pembela jihad dan tidak pula pecinta-pecinta jihad yang tulus. Justru mereka seperti seorang wanita yang mengklaim secara dusta dan zalim, sementara ia sendiri menelantarkan anaknya, lalu ia rela anak yang tiada hubungan darah dengannya dibelah. Ia mengklaim anak tersebut adalah anaknya. Seandainya klaimnya benar, tentulah ia akan merasa sayang kepada anak tersebut, tidak rela jika anak itu dibelah atau dikoyak-koyak atau dicerai-beraikan tulang belulangnya.
Sudah pasti bisa diterima jika [klaim] wanita itu disangkal dari anak tersebut, dicela karena ia bukan ibunya yang sebenarnya, ia tidak peduli dengan nasib anak tersebut, anak tersebut tidak memiliki kaitan apapun dengannya atau ia tidak memiliki kaitan apapun dengan anak tersebut —seperti dilakukan oleh ibu kandung sebenarnya dari anak tersebut, yang sangat mengasihi dan menyayanginya—. [Ia sudah pasti layak ditolak klaimnya dan dicela dengan celaan-celaan tersebut] karena ia rela anak tersebut dibelah, dikoyak-koyak dan dicerai-beraikan anggota badannya.
Tidak diragukan lagi bahwa para pembaca tulisanku ini sudah mengerti perumpamaan yang saya isyaratkan dan saya jadikan landasan di sini, yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih Al-Bukhari, pada Kitab Al-Faraidh, Bab Jika Seorang Wanita Mengklaim Seorang Anak. Hadits itu mengisahkan Nabi Sulaiman ‘alaihi salam dan dua orang wanita yang bersengketa tentang seorang anak, setelah seekor srigala membawa lari seorang anak dari salah satu wanita tersebut. Saya menulis tulisan ini setelah sampai berita kepadaku bahwa sebagian orang nekat mengenakan pakaian peran wanita yang mengklaim secara dusta tersebut dan memerankan peran wanita yang meratap secara dusta.
Seandainya mereka jujur dalam meratapi kondisi umat Islam, persekongkolan musuh-musuh terhadap umat Islam dan agama Islam, memilukan mereka kondisi jihad melawan musuh-musuh Islam dan pengeroyokan musuh-musuh Islam terhadap jihad; niscaya mereka tidak akan rela melakukan peran seperti ini. Tentulah mereka akan termasuk golongan yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya serta mereka takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 21)
Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah Ta’ala dan mengatakan perkataan yang lurus. Maka kami katakan sebagai penjelasan sikap kami terhadap kelompok-kelompok mujahidin di Suriah, sekaligus sebagai nasehat kepada orang-orang yang berkepentingan dengan urusan jihad: Kami memberikan loyalitas dan menolong setiap orang yang mengangkat panji tauhid dari kalangan saudara-saudara kami mujahidin di Suriah, juga setiap orang yang berjihad demi menolong dan memenangkan panji tauhid, tanpa membeda-bedakan antara satu kelompok jihad dengan kelompok jihad lainnya; dan di barisan pelopor mereka adalah saudara-saudara kami dalam kelompok Jabhah Nushrah dan saudara-saudara kami dalam kelompok Daulah Irak dan Syam.
Kami tidak rela jika kelompok-kelompok mujahidin dipecah-belah. Kondisi itu sungguh menyedihkan kami dan kami mengajak mereka untuk bersatu di bawah panji tauhid dan di bawah kepemimpinan seorang Amir. Jika hal itu sulit dilakukan, maka minimal hendaknya mereka bersatu di bawah naungan Majlis Syura yang mengumpulkan mereka dan menyatukan suara mereka. Kami tidak rela kurang dari hal itu. Bahkan kami berharap ikut disatukan bersama mereka setiap kelompok jihad lainnya yang sepakat mereka dalam perkara ushul [akidah dan manhaj].
Selain itu harus ditonjolkan dan didahulukan [dijadikan pimpinan] saudara-saudara kita dari penduduk Suriah asli di bagian depan dan sendi-sendi [bagian-bagian Majlis Syura] yang paling penting. Hal itu karena kita dan setiap orang yang berakal sehat mengetahui bahwa peperangan ganas yang diterjuni oleh mujahidin pada hari ini di Suriah tidak mungkin akan dimenangkan dengan tercerai-berainya mujahidin atau dimenangkan oleh satu kelompok jihad sendirian.
Bagaimana mujahidin rela untuk tetap bercerai-berai, sementara kekuatan-kekuatan kekafiran dengan beragam jenisnya, yaitu kelompok Bathiniyah [rezim Nushairiyah Suriah, pent], kelompok salibis dan rezim-rezim Arab yang murtad, mereka semua melakukan konspirasi terhadap mujahidin. Kekuatan kafir yang beragam jenis tersebut telah bersatu padu dan bersekongkol menghadapi panji mereka dan jihad mereka.
Menghadapi persatuan dan persekongkolan kekuatan musuh ini, tidak ada yang layak dilakukan mujahidin selain menyatukan barisan, mencairkan perselisihan, mencampakkan kepentingan-kepentingan pribadi dan mengedepankan kepentingan [maslahat] jihad yang menyeluruh daripada sebagian kepentingan [maslahat] yang lebih lemah atau parsial, yang sebenarnya bisa direalisakan secara cepat setelah mujahidin meraih kemenangan dan kekuasaan. Persatuan akan membuat marah orang-orang kafir, melegakan hati orang-orang yang bertauhid dan menguatkan barisan mujahidin.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaf [61]: 4)
Pertama: Kami mengingatkan mujahidin akan pentingnya mengindahkan siyasah syar’iyah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, khususnya di awal-awal pendirian daulah dan sebelum kaum muslimin memiliki kekuatan [dominan] di Madinah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam mengindahkan aliansi-aliansi yang ada pada saat itu, beliau mengikat perjanjian damai bahkan dengan orang-orang Yahudi, dan beliau tidak membatalkan perjanjian tersebut sampai daulah Islam kuat dan orang-orang Yahudi sendiri yang membatalkannya.
Beliau juga tidak memulai benturan dengan orang-orang munafik, meskipun mereka menyakiti beliau. Beliau membiarkan mereka dan menunda mereka sampai saat kaum muslimin kuat. Beliau memaafkan gangguan mereka dan tidak mempedulikan gangguan orang-orang lainnya, sehingga masyarakat tidak mengatakan bahwa Muhammad membunuh kawan-kawannya sendiri. Beliau juga mempertimbangkan situasi masih barunya orang-orang masuk Islam.
Kedua: Kami mengingatkan mujahidin bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam mengindahkan sunnah-sunnah kauniyah [sunatullah, hukum alam] dan sarana-sarana, mengkaji pertimbang-pertimbangan kekuatan dan kelemahan, dan menimbang sedikit – lemahnya kekuatan dan banyak-kuatnya kekuatan. Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa salam adalah pemimpin orang-orang yang bertawakal, bersabar dan yakin.
Ketiga: [Kami juga mengingatkan mujahidin bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam] mengindahkan belum lamanya masyarakat meninggalkan zaman jahiliyah dan belum kokohnya keislaman dalam hati banyak masyarakat. Ini termasuk hal-hal yang dipertimbangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam. Sebab, meskipun beliau meleburkan mayoritas masyarakat dalam kelompok Muhajirin dan Anshar, namun beliau tidak menabrak atau tidak melupakan perkara yang telah berakar kokoh dalam hati masyarakat, yaitu sikap masyarakat yang mendahulukan tokoh-tokoh mereka dan mengikuti pemimpin-pemimpin mereka serta bermusyarawah dengan orang-orang bijak mereka saat terjadi peristiwa-peristiwa penting.
Sirah nabawiyah menjadi bukti atas hal itu dan penuh dengan peristiwa itu. Maka barangsiapa ingin membakar tahapan-tahapan itu, tergesa-gesa meniadakan pertimbangan-pertimbangan seperti ini dan melompatinya, niscaya ia telah tergesa-gesa untuk meraih suatu perkara sebelum waktunya tiba dan ia tidak mengindahkan siyasah nabawiyah. Ia hanya akan memetik tercerai-berainya lingkaran konflik dan membuka banyak front dalam waktu yang bersamaan. Dan hal itu bukanlah siyasah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
Keempat: Oleh karena itu, kami senang untuk jihad di Suriah, jika qiyadah [kepemimpinan]nya dan orang-orang yang ditonjolkan di bagian mukanya adalah saudara-saudara kita orang-orang yang bertauhid dari penduduk Suriah sendiri. Kami memandang hal itu merupakan sebuah maslahat yang kami telah mengarahkan saudara-saudara kita mujahidin di berbagai penjuru medan jihad. Kami tidak senang jika pertimbangan ini diabaikan, lantaran klaim bahwa hal ini berarti mengaitkan jihad dengan pembagian-pembagian jahiliyah perjanjian Sykes – Picot.
Kita tidak mengaitkan jihad dengan perjanjian jahiliyah seperti itu, namun kita mengaitkan jihad dengan kitab Allah [Al-Qur'an] yang mengindahkan hal itu dalam pemilihan para nabi. Maka mengindahkan hal itu untuk pemilihan selain nabi adalah lebih layak lagi. Demikian pula kita mengaitkannya dengan sirah nabawiyah yang mengindahkan pertimbangan ini dan tidak mengabaikannya dalam banyak peristiwa.
Kelima: Saya mengingatkan sangat pentingnya menyadari perbedaan yang sangat jelas antara imarah [kepemimpinan jama'ah] perang dan jihad atau imarah-imarah sebelum kemenangan [tegaknya daulah Islam] dengan Imarah mukminin dan daulah yang telah meraih kemenangan, terlebih lagi khilafah Islamiyah. Berinteraksi dengan substansi, ukuran yang sebenarnya, dan penamaan yang sesuai syariat dan realita akan menempatkan semua perkara sesuai kadar ukurannya yang benar, dan tidak akan menimbulkan dampak buruk yang tidak disukai atau membebaninya dengan beban yang tidak sanggup ia pikul.
Keenam: Saya mengajak saudara-saudara kami kaum muslimin secara umum dan para pembela agama ini secara khusus untuk menolong panji tauhid di Suriah. Hendaknya mereka jeli memandang makar-makar para musuh Islam dan para penguasa thaghut yang membuat makar terhadap jihad dan mencitrakan secara buruk jihad dan mujahidin. Waspadalah dari membenarkan kebohongan para penguasa yang kafir atau membantu mereka dalam melakukan kebatilan mereka.
Ketujuh: Secara khusus, saya juga mengajak saudara-saudaraku para penuntut ilmu [ulama, ustadz dan santri, pent] untuk menolong panji yang diberkahi ini, membelanya, dan membantu untuk menyatukan kelompok-kelompoknya. Bukannya [membantu dalam] mencerai-beraikannya dengan sifat fanatisme atau memihak sebagian kelompok tersebut, sebab orang yang memihak tidak akan bisa membedakan. Hendaknya mereka mengetahui bahwa saudara-saudara mereka mujahidin telah meminta mereka untuk berangkat berjihad dan mujahidin meminta pertolongan mereka.
Mujahidin telah berulang-kali memintaku untuk mengingatkan kalian akan hal ini. Sebab mujahidin sangat membutuhkan pertolongan para penuntut ilmu, dengan jiwa mereka, senjata mereka, lisan mereka, dan leher-leher mereka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penolong (agama) Allah!” (QS. Ash-Shaf [61]: 14)
Saya menulis tulisan ini sebagai pertolongan kepada panji tauhid dan nasehat bagi jihad dan mujahidin. Juga untuk memenuhi keinginan dan permintaan mujahidin yang meminta nasehat dariku. Seandainya mereka tidak meminta nasehat dariku sekalipun, sesungguhnya menasehati mereka merupakan sebuah kewajiban bagiku. Apalagi mereka telah meminta kepadaku dan menyampaikan kepadaku bahwa mereka mengindahkan nasehat-nasehatku dan tidak mengabaikan arahan-arahanku, bahkan mereka mengajarkan tulisan-tulisanku kepada pasukan mereka.
Saya memohon kepada Allah semoga menerima amal kami dan amal mereka, menyatukan barisan mujahidin, menjayakan panji tauhid dan menjungkirkan panji-panji kesyirikan, memenangkan kita atas musuh kita, menyerahkan bahu-bahu mereka kepada kita dan menguasakan leher-leher mereka kepada kita.
Ditulis oleh pelayan mujahidin
Abu Muhammad Al-Maqdisi
1 Muharram 1435 H
(muhibalmajdi/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/11/18/taushiyah-syaikh-abu-muhammad-al-maqdisi-persatuan-kemaslahatan-mujahidin-suriah.html#sthash.4lod0X0C.dpuf